Sabtu, 15 Desember 2012


MAKALAH
PENGANTAR EKONOMI PEMBANGUNAN

Peningkatan Pembangunan Ekonomi Dalam Kaitan Kemampuan Negara Berkembang Melakukan Pembayaran Hutang Dan Melakukan  Pembangunan Sumber Daya Manusia.

Diajukan Sebagai Syarat Dalam Memenuhi Tugas Akhir Dalam Mata Kuliah
 Pengantar Ekonomi Pembangunan

 








OLEH:

Romadani rajab
BP/NIM. 2006/02609



PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2012
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini dengan judul “ Peningkatan Pembangunan Ekonomi  Dalam Kaitan Kemampuan Negara Berkembang Melakukan Pembayaran Hutang Dan Melakukan  Pembangunan Sumber Daya Manusia.” makalah ini disusun untuk memenuhi syarat dalam mengikuti perkuliahan Ekonomi Pembangunan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ariusni, S.E. M.Si, selaku dosen dalam perkuliahan yang telah memberikan bimbingan dan bantuan kepada penulis dalam melakukan transfer ilmu. Untuk itu penulis mengucakan rasa terima kasih atas bantuan yang diberikan dalam penulisan makalah ini dan semoga diterima oleh Allah Yang Maha Esa.
Akhirnya, penulis menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan kritikan dan saran yang sifatnya membangun sehingga menjadi sumbangan yang berarti bagi pendidikan di masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaatkan bagi penulis lain dan semua pihak tentunya.
Padang,  Desember, 2012

                                                                                                         
Penulis
DAFTAR ISI
           
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN              
A.    Latar Belakang Masalah
B.     Perumusan Masalah
A.    Tujuan Penulisan
BAB II  KAJIAN TEORI
A. partisipasi  Pembangunan
B. Pembangunan Ekonomi
BAB III PEMBAHASAN
A. Kondisi Negara Berkembang
B. Peningkatan Pembangunan Ekonomi Dalam kaitan kaitannya Melakukan Penyelesaian Hutang Oleh Negara Berkembang
C. Peningkatan pembanguna ekonomi dalam kaitannya  melakukan penngatan sumberdaya manusia oleh Negara berkembang
BAB IV KESIMPULAN
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pembangunan ekonomi bagi negara berkembang merupakan hal utama untuk menjadikan negara  lebih mampu bersaing dengan negara maju. Pentingnya pemabnguan ekonomi tersebut tidak terlepas dari berbgai faktor yang memeprngaruhinya.
Dalam membicaakn fakor yang mempengaruhi pembangunan ekonmi dinegaraberkembangan tentunya tidak saja selalau berhubungan dengan fakta fakta yang ada, tetapi juga berhubungan dengan realitas kehidupan summberdaya nanusianya. Sehingga menjadi penting memperhatikan aspek-aspek pembanguan tersebut. Berkaitan dengan faktor-faktor tersebut tentunya tidak akan terlepas dari kesadarn berupa partisipasi dari manusia dan negara dalam meningkatkan kemampuan mereka. Karena dengan peningkatan kemampuan pada dasrnya akan mempermudah terjadinya penciptaan neknologi-teknologi yang memberikan manfaat terhadap perekonomian negara dan  individu masyarakat itu sendiri.
Bentuk partisipasi dalam peningkatan tersebut dapat dilihat dari berbagai hal, seperti kemampuan negara dalam membayar pinjaman dan kemampuan negara dalam meningkatkan indeks pembangunan manusianya. Keduanya menjadi menarik akrena dilema yang terjadi dinegara berkembang adalah ketika negara berkembang menerima pinjaman dalam jangkawaktu tertentu dan tiba waktunya untuk memayar negara tersebut tidak mampu mengembalikan pinjaman internasional tersebut. Berkaitan dengan peningkatan indeks pembangunan manusia maka dapat dijelaskan bahwa pada dasarnya pengembangan sumberdaya manusia telah dilakukan dengan cukup baik tetapi dalam kenyataannya tidak mampu memberikan dampak terhadap pembangunan ekonomi di negara berkembang.
Berdasarkan pada permasalahan maka penulis tertarik untuk mengangkat permasalah ini dalam kaitannya dengan partisipasi pembayaran hutang oleh negara berkembang dan partisipasi dalam sumberdaya manusia meningkatkan pembangunan ekonomi. Untuk itu judul makalah ini adalah Peningkatan Pembangunan Ekonomi  Dalam Kaitan Kemampuan Negara Berkembang Melakukan Pembayaran Hutang Dan Melakukan  Pembangunan Sumber Daya Manusia.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah diatas, maka permasalahan yang akan dibicarakan dalam makalah ini adalah berkaitan dengan pembayaran utang oleh negara berkembang dan peningkatan kualitas partispasi sumberdaya manusia dalam peningkatan pembangunan ekonomi di negra berkembang.
C. Tujuan penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.       Untuk melengkapi tugas mata kuliah Ekonomi Pembangunan, sebagai syarat dalam mengikuti ujian semester
2.       untuk mengetahui bagaimana pembangunan ekonomi di negara berkembang
BAB II
KAJIAN TEORI
A.  Partisipasi pembanguan
Menurrut Todaro (2004:269) salah satu tujuan pertumbuhan ekonomi adalah pembangunan manusia, maka tanpa partisipasi kita akan mencapai pembanguna pertumbuhan ekonomi tanpa pembangunan. Berdasarkan pemahaman ini maka pada adasarnya selain menciptakan pendapatan masyarakat tujuan dari pertumbuhan ekonomi adalah meciptakan partisipasi pembanguan masyarakat sehingga tercipta pembangunan ekonomi yang mampu meningkatkan perekonomian.
Partispasi merupakan suatu cara mencapai tujuan lain dari pembangunan ekonomi. Lebih lanjut Todaro (2004:270) menjelaskan bahwa partisipasi pembanguan terbukti membuat proyek-proyek pembangunan yangg paling berhasil. Dengan partisipasi murni dan penuh oleh orang-orang yang mendapatkan manfaat pembangunan dan dengan cara penggunaan bantuan pembangunan secara umum, kita dapat berharap dari setiap dolar bantuan yang diberikan dapat memeberikan hasil bagi perbaikan perekonomian.  
B.      Pembangunan ekonomi
Berbicara tentang pembangunan ekonomi tidak akan terlepas dari Pertumbuhan ekonomi suatu negara.  Pertumbuhan ekonomi menurut kuznet adalah kenaikan jangka panjang dalam kemampuan suatu negara menyediakan barang ekonomi kepada pendududknya. Kemampuan itu tumbuh dari kemajuan teknologi da penyesuaian lembaga pelenmbagaan yang idiologis. Defenisi ini memberikan gambaran bahwa dalam pertumbuhan ekonomi mempunyai tiga arti penting, yaitu pertumbuha ekonomi suatu bangsa dapat diihat dari peningkatan penyediaan barang, teknologi maju menjadi pwnwntu derajat kejuan suatu negara, penggunaan teknologi secara luas dan efisien memerlukan penyesuaian dibidang pelembagaan damidiologi sehingga inovasi yang dihasilkan oleh umat manusi dapat dimanfaatan. (jhinggan, 20057) .
Selanjutnya dalam proses pembanguan ekonomi menururt Rostow (dalam Sukirno;1985) tidak akan terlepas dari pembanguan ekonomi, politik ,sosia budaya yang berlaku. Pembangunan ekonomi bukan saja perubahan dalam struktur pembanguan ekonomi suatu negara yang menyebabkan  peranan sektor pertanian menjadi menururn dan peranan sektor industri meningkat. Akan tetapai mencakup beberapa proses lainnya yaitu; 1) perubahan orentasi orentasi ekonomi, politik dan sosial budaya yang pada mulanya mengarah dalam satu aderah menjadi keluar daeerah, 2) pandangan anggaota masyarakat terhada berbagai anggota keluarga, 3) perubahan dalam kegiatan penanaman modal dari yang tidak produtif menjadi penanaman modal yang produktif, 4) perubahan terhadap cara pandang masyarakat kearah kehidupan yang modern.
Peruabahan-perubahan dalam pembangunanan tersebut tentunya tidak dapat tercipta dengan sendirinya dan dengan keinginan pemerintah saja tapi diperlukan adanya partisipasi dari masyarakat dan peemrintah itu sendiri.

BAB III
PEMBAHASAN
A.    Kondisi Negara Berkembang
Dalam perkembangan perekonomian dunia dapat dibedakan atas 2 kelompok negara yaitu negara maju dan negara berkembang. Menurut (suharto, dalam wwww. Google.com) Terdapat 33 negara yang masuk kategori negara Maju. Sebanyak 26 negara berada di kawasan Eropa (Prancis, Jerman, Belanda, Inggris,dst.) dan 6 diantaranya masuk bagian Eropa Timur dan Tengah (Bulgaria, Hongaria, Polandia, Slovenia, Republik Slovak dan Czechnya). Dua negara, Estonia dan Ukraina, merupakan negara yang baru merdeka dari bekas Uni Sovyet. Mayoritas negara-negara ini memiliki sejarah demokrasi yang kukuh dan sistem ekonomi terbuka. Kondisi ekonominya sangat baik dan stabil. Rata-rata GDP mencapai $18.700 dengan inflasi yang relatif rendah (3,1%). Tingkat tabungan dan investasi tinggi, sedangkan utang luar negerinya sangat rendah. 
Negara-negara yang masuk kategori Negara Berkembang Menengah menyebar diseluruh wilayah geografis: Asia (36 negara), Amerika Latin (22), Afrika (10), dan Oceania (1). Sebagian besar negara-negara ini telah memiliki apa yang disebut “social ingredients” yang diperlukan untuk mencapai kondisi sosial dan ekonomi maju, seperti stabilitas politik, dinamika ekonomi, akses ke sumber daya alam (khususnya enegi), kualitas kesehatan, pendidikan dan sistem jaminan sosial. GNP per kapita di Negara Berkembang Menengah juga relatif tinggi, sekitar US$4910 dengan pertumbuhan 2,3% per tahun dan laju inflasi 7% per tahun. Tingkat pengangguran relatif rendah, sekitar 13,1% dari jumlah angkatan kerja. Namun demikian, beberapa negara masih memiliki kondisi sosial ekonomi yang rentan, seperti pemerintahan korup, jumlah dan pertumbuhan penduduk tinggi, tingginya pengangguran dan meluasnya kemiskinan.
Negara yang termasuk kategori Negara Berkembang Terbelakang berjumlah 38. Sebagian besar berada di Afrika (29 negara), 7 negara di Asia,1 negara di Amerika, dan 1 negara di Pasifik Selatan. Terbelakangnya pembangunan ekonomi di negara ini terlihat dari rendahnya Rata-rata GDP di negara-negara berkembang terbelakang ini sekitar US$950. Pertumbuhan ekonominya juga sangat rendah, hanya sekitar 3% dengan inflasi tinggi, mencapai 37%. Sarana komunikasi dan transportasi sangat terbatas, serta daya saing di pasar internasional juga sangat terbatas. Tabungan pemerintah dan sektor swasta sangat rendah, sementara utang luar negerinya sangat tinggi. Pemerintahan di sebagian besar negara ini sangat sentralistik. Roda ekonomi sangat tergantung pada gabungan antara pinjaman luar negeri, bantuan negara donor, dan investasi swasta dari luar negeri. Tingkat pengangguran di Negara Berkembang Terbelakang juga sangat tinggi. Meski secara resmi tercatat 20%, kenyataannya bisa lebih dari itu. Pengangguran terutama dialami oleh wanita, laki-laki berusia lebih ari 45 tahun, para penyandang cacat dan buta hurup menular.  Berdasarkan pada kondisi perkembangan ini maka nampak bahwa dalam perkembangan negara berkembang memiliki tingkat pendapatan yang rendah , inflasi yang cukup tinggi, sarana komunikasi dan transportasi yang masih kurang memadai
B.    Peningkatan Pembangunan Ekonomi Dalam Kaitannya Dengan Kebijakan Penyelesaian Utang Oleh Negara Berkembang 
Pertumbuhan ekonomi yang cepat dan menyeluruh adalah satu-satunya faktor terpenting dalam memelihara keberlanjutan pembanguanan. Pengalaman perekonomian di Asia Timur dan Asia Tenggara menekankan pada pentingnya suatu kebijakan publik yang dinamis dan peran aktif dari negara yang bersangkutan dalam menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan terselenggaranya pertumbuhan ekonomi yang cepat. Untuk itu bagai negara berkembang diperlukan keseriusan dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan.
Dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan tersebut, pemerintah negara berkembang tentunya membutuhkana anggaran dalam pembiayaan pembangunan. Pada sebahagian negara yang berkembang, anggara tersebut kemudian diambil dari pinjaman negara berkembang kepada lembaga donor, seperti IMF, paris Club, ADB, dan lainnya. Melalaui pinjaman peinjaman inilah kemudian pembangaun tersebut mulai dilaksananakan. Namun yang terjadi permasalahan adalah sering tertundanya atau tidak mampuya pemerintah negara berkembang mengembalikan pinjamn yang diterimanya. Akibatnya jelas bunga pinjaman yang ditanggung negara berkembang mengalami peningkatan.
Berbagai permasalahn ini timbul karena pada sebahagian negara berkembang memiliki tingkat GDP yang relatif kecil, sehingga relatif sulit untuk membiayai utang dari anggaran yang tersedia. Sebagai contoh dapat dilihat pada kondisi indonesia yang relatif mempunyai beban yang cukup tinggi dari pembiayaan tehadap hutang.
Grafik 1.
Pembayaran Bunga Utang Pemerintah Indonesia
Berdasarkan grafik terlihat bahwa terdapat pembayaran bunga utang pemerintah yang megalami penurunan. Namun secara keseluruhan bunga utang tersebut masih tinggi. Krisis ekonomi 1998 telah menaikkan jumlah utang luar negeri pemerintah dalam rupiah menjadi tiga sampai empat kali lipat dari kondisi sebelum krisis akibat depresiasi rupiah yang tajam. Utang ini diperparah oleh program penjaminan dan rekapitalisasi dalam rangka penyehatan perbankan saat terjadi krisis. Penerbitan surat utang dan obligasi negara tersebut menimbulkan tambahan beban pada sisi pengeluaran APBN, yakni berupa pembayaran bunga pinjaman dalam negeri sehingga menimbulkan dampak fiskal yang sangat berat dan akan terus dirasakan sampai beberapa tahun mendatang. Ditambah dengan beban pembayaran bunga dan cicilan pinjaman luar negeri yang mengalami kenaikan akibat tambahan utang baru selama krisis berlangsung maupun akibat depresiasi rupiah, total beban kewajiban utang pemerintah (dalam negeri dan luar negeri) ini menambah tekanan APBN sehingga mengurangi kemampuan pemerintah untuk melakukan fiscal stimulus bagi pertumbuhan ekonomi. Akibat lebih lanjut dari adanya beban untuk memenuhi kewajiban utang yang begitu besar telah menggeser permasalahan dalam menciptakan pembanguna yang lebih baik menjadi pembanguan untuk membayar hutang negara.
C.    Peningkatan Pembangunan Ekonomi Dalam Hal Kaitannya Dengan Kebijakan peningkatan partispasi sumberdaya manusia
Dalam menciptakan pembanguan ekonomi yang lebih relevan, maka partisipasi yang hasrus dikembangkan bukan saja oleh pemerintah tetapi juga oleh masyarakat itu sendiri. Dalam peningkatan partisipasi masyarakat dalam membangun dapat dilihat dari upaya masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan indeks pemabngunan manusia di negara berkembang. Tujuannya adalah agar ewarga negara mamapu memiliki pemahamn yang lebih terhadap tinggat penddikan, kesehatan dan perekonomian itu sendiri.  Untuk menciptakan tinggat pendidikan yang lebih baik bagi negara berkembang pada dasarnya juga telah ditentukan berdasarkan ujuan kedua dari delapan tujuan Pembangunan Millenium (TPM) atau  Millennium Development Goals (MDGs) yang telah ditetapkan melalaui kesepakatan bersama.
Tujuan kedua dari delapan tujuan Pembangunan Millenium (TPM) atau  Millennium Development Goals (MDGs) adalah mencapai pendidikan dasar untuk semua. MDGs memang bukan merupakan isu yang baru, tetapi pencapaian target MDGs di Indonesia masih di bawah target yang diharapkan. Bahkan, menurut Laporan "A Future Within Reach" maupun Laporan MDGs Asia-Pasifik tahun 2006, Indonesia termasuk dalam kategori terbawah bersama Banglades, Laos, Mongolia, Myanmar, Pakistan, Papua Nugini dan Filipina (Hartiningsih, 2007). Pada awal sosialisasi MDGs di Indonesia memang menimbulkan beberapa kontroversi. Ada sebagian dari komponen masyarakat yang menganggap bahwa MDGs sebagai program yang ambisius. Namun, MDGs sebenarnya bukan hal yang ambisius atau mengada-ada karena MDGs merupakan program yang didasarkan pada semangat pemenuhan hak dasar warga negara. Hal ini dapat dilihat bahwa sebagian besar indikator MDGs didasarkan pada Human Development Index (HDI) yang terdiri dari tiga indikator, yaitu: pencapaian pembangunan bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Tiga indikator dalam HDI yang meliputi aspek kesehatan, pendidikan dan ekonomi tersebut mencerminkan  sejauh mana negara mampu memenuhi hak-hak dasar warga negara.
Apabila keberhasilan pencapaian MDGs diukur dari HDI, maka pencapaian MDGs di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Posisi Indonesia dalam HDI pada tahun 2006 berada pada urutan 108, dengan nilai indeks sebesar 0,83. Ranking Indonesia ini jauh di bawah negara-negara Asia Tenggara lainnya, misalnya Singapura yang berada pada urutan ke-25, Malaysia ke- 61, Thailand ke-74, Filipina ke–84 dan Brunei Darrusalam ke-34. Karena tulisan ini akan mendiskusikan tujuan kedua dari delapan Tujuan Pembangunan Milenium, maka akan disajikan tingkat pencapaian bidang pendidikan di Indonesia. Setidaknya kita akan melihat posisi Indonesia dalam beberapa negara di Asia Tenggara. Menurut Global Monitoring Report (GMR)[1] 2008 yang dikeluarkan UNESCO, Indeks Pembangunan Pendidikan atau Education Development Index (EDI)[2] Indonesia mengalami penurunan. Pada GMR, peringkat Indonesia turun dari posisi 58 menjadi 62. Seperti yang dipaparkan pada Kompas (31 Desember 2007:14), nilai total EDI yang diperoleh Indonesia juga mengalami penurunan sebesar 0,003 poin dari 0,938 menjadi 0,935. Tabel 1 berikut ini menyajikan nilai EDI agar dapat mengamati perbandingan Education Development Index (EDI) beberapa negara Asia Tenggara
Tabel 1. Indeks Pembangunan Pendidikan Negara Asia Tenggara
Negara
Indeks Pembangunan Pendidikan
Angka Partisipasi Pendidikan Dasar
Angka Melek Huruf usia 15 thn keatas
Angka menurut gender
Angka Bertahan hingga kelas 5 SD
Brunei
0,965
0,969
0,927
0,967
0,995
Malaysia
0,945
0,954
0,904
0,938
0,984
Indonesia
0,935
0,983
0,904
0,959
0,895
Vietnam
0,899
0,878
0,903
0,945
0,868
Filipina
0,893
0,944
0,926
0,955
0,749
Myanmar
0,866
0,902
0,899
0,963
0,699
Kamboja
0,807
0,989
0,736
0,871
0,631
Laos
0,750
0,836
0,714
0,820
0,630
     Sumber: www.google.com .
Bentuk upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pembangunan dalam bidang ini adalah dengan mengupayakan peningkatan anggaran bagi negara berkembang dalam bidang pendidikan. Ini diperlukan agar terjadi pemerataa dan penciptaan tingkat kemampuan yang lebih baik terutama dari segi pembiayaan. Pengeluaran pembiayaan yan dilakukan oleh negara berkembang dapat dilakukan dengan meningkatkan persentase pembiayaan publik



Tabel 2.Pengeluaran Publik Bidang Pendidikan di Malaysia, Thailand, Filipina dan Indonesia tahun 2004
kETERANGAN
malaysia
THAILAND
filipina
indonesia
Persentase pengeluaran publik
28
27
17,2
9
Per kapita PDB (harga US$ pada konstan 2000)
4.290
2.356
1.085
906
Jumlah penduduk (juta)

24,4
63,7
81,6
217,6
Persentase jumlah penduduk berumur 0-14
3,0
4,1
2,8
3,5
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bagaimana partisipasi masing-masing pemerintah yang memiliki pembiayaan pengeluaran publik dalm pendidikan. Sehingga mereka mampu memperoleh hasil dari pembangunan saat ini. Dari tabel dapat diketahui bahwa malaysia memiliki partisipasi dalam pengeluaran publik untuk pembangunan tertinggi di asia tenggara, yaitu 28% dari produk domestik brutonya. Selanjutnya di ikuti oleh thailand, filipina dan indonesia.
Pentingnya partisipasi pendidikan sebagaimana diuraikan di atas memang tidak dapat disangkal lagi.  Bagi sebagian negar berkembang yang memiliki penduduk miskin dalam jumlah skala beasr, pendidikan merupakan salah satu alat mobilitas vertikal yang paling penting. Ketika modal yang lain tidak mereka miliki, terutama modal berupa uang atau barang, hanya dengan modal pendidikanlah mereka dapat berkompetisi untuk mendapatkan kesempatan memperoleh penghidupan yang lebih baik di masa depan.
Pendidikan yang tinggi, yang ditunjang dengan kondisi kesehatan yang baik, pada akhirnya  dapat meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mencapai kehidupan yang sejahtera. Tentu pendidikan dan kesejahteraan tidak memiliki hubungan yang bersifat langsung, akan tetapi melalui proses panjang di mana pendidikan  yang baik akan memberi peluang pada anggota masyarakat untuk dapat terlibat di dalam proses pembangunan ekonomi. Bagaimana mekanisme tersebut dapat terjadi dapat dijelaskan dalam proses sebagai berikut: Kondisi pendidikan dan kesehatan yang baik merupakan prasayat terbentuknya SDM yang berkualitas. Dengan SDM yang berlualitas maka masyarakat akan memiliki produktivitas tinggi. Produktivitas yang tinggi pada gilirannya akan berkontribusi sangat significant pada upaya untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.
Kesempatan untuk dapat memperoleh pelayanan pendidikan, dengan demikian, dapat pula digunakan sebagai instrumen yang paling efektif untuk memotong matai rantai atau lingkaran setan kemiskinan (the vicious circle of poverty, di mana kemiskinan terjadi karena rendahnya produktivitas orang miskin yang disebabkan rendahnya kualitas SDM (pendidikan dan kondisi kesehatan) orang miskin tersebut. Rendahnya SDM orang miskin itu sendiri disebabkan kondisi kemiskinan mereka sehingga mereka tidak mampu melakukan investasi untuk pendidikan dan kesehatan.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.  Kesimpulan
Dengan begitu pentingnya pembangunan ekonnomi bagi setiap negaar berkembang, maka peningkatan kualitas sumebrdaya manusia perlu ditingkatkan. Sementara itu bagi negara yang mengansdalkan pembanguan perekonomian dengan kredit utang hendaknya juga memperhatikan kondisi perekonomian jangka panjang.. hal ini perlu dilakukan agar tidak menjadi beban bagi pemerintahan selanjutnya. Selain itu dengan memperhaitikan GDP negara, maka sedapat mungkin pembiayaan lewat hutang dilakukan melalaui lemabaga atau negara donor yang memberikan pinjaman lunak. Sehingga dalam mengemblikan pinjaman dapat lebih ringan.
B.   Saran
Dalam kaitnnya dengan ekonomi pemangunan maka pemerintah dalam meningkat pembangunanya sedapat mungkin mengurangi pembiayaan pembanguan dari hutang jangka pendek yang dapet memeberikan beeban lebih bagi negara untuk menyelesaikannnya. Samentara itu dalam penciptaan pembangunan yang lebih baik, anggaran sektor publik untuk pembiayaan pendidikan harus makin ditingkatkan sehingga tidak dapat meningkatkan kemampuan kualitas nmanusia yang menjalankan perekonomian nantinya















DAFTAR PUSTAKA
Jhinggan. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Jakarta: Rajawali Press
Sadono Sukirno. 1985. Ekonomi Pembangunan. Jakarta: FE UI
Todaro, Michael. 2004. Pembanguan ekonomi 2. Jakarta:  Erlangga
http://www.publicfinanceindonesia.org. Pembiayaan sektor pendidikan.
http;// www.google.com. Peringkat indeks pembanguanan manusia




Minggu, 18 November 2012

ANALISIS SHIFT-SHARE DAN LQ


ANALISIS SHIFT-SHARE
Digunakan untuk mengetahui perubahan
struktur / kinerja ekonomi daerah terhadap
struktur ekonomi yg lebih tinggi (provinsi atau
nasional) sebagai referensi
Perubahan relatif kinerja pembangunan daerah
terhadap nasional dapat dilihat dari:
1. Pertumbuhan ekonomi nasional (national growth effect); bgmpengaruh
pertumbuhan ekonomi nasional thd daerah
2. Pergeseran proporsi (proportional shift); mengukur perubahan relatif
(naik/turun) suatu sektor daerah thd sektor yg sama di tingkat nasional.
Disebut juga pengaruh bauran industri (industry mix)
3. Pergeseran diferensial (differential shift); mengetahui seberapa kompetitif
sektor tertentu daerah dibanding nasional. Jika nilainya (+) berarti
kompetitif, jika nilainya (-) tidak kompetitif. Disebut juga pengaruh
keunggulan kompetitif.

perbedaan pembangunan ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi


Pengertian Ekonomi Pembangunan dan Pembangunan Ekonomi

PENGERTIAN EKONOMI PEMBANGUNAN DAN

PEMBANGUNAN EKONOMI


Ekonomi  pembangunan: ilmu yang mengajari tentang pembangunan di bidang ekonomi.
Definisi Pembangunan Ekonomi :
Suatu proses di mana pendapatan per kapita suatu Negara meningkat selama kurun waktu yang panjang, dengan catatan bahwa jumlah penduduk yang hidup di bawah “garis kemiskinan absolute” tidak meningkat dan distribusi pendapatan tidak semakin timpang.

Yang dimaksud  dengan proses adalah berlangsungnya kekuatan-kekuatan tertentu yang saling berkaitan dan mempengaruhi. Dengan kata lain, pembangunan ekonomi lebih dari sekedar pertumbuhan ekonomi. Proses pembangunan menghendaki adanya pertumbuhan ekonomi yang diikuti dengan perubahan dalam :
1.      Perubahan struktur ekonomi : dari pertanian ke industri atau jasa
2.      Perubahan kelembagaan, baik lewat regulasi maupun reformasi kelembagaan itu sendiri.
ADA 3 KATA KUNCI DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI :
1. Suatu proses, yang terjadi secara terus-menerus (Berkesinambungan)
2. Adanya usaha untuk meningkatkan pendapatan per kapita riil
3. Kenaikan per kapita riil yang berjalan dalam jangka panjang

Namun secara implicit dari pengertian diatas terkandung 2 konsep yaitu pertumbuhan dan pembangunan yang satu dengan yang lainnya berbeda tapi saling terkait.
Perbedaannya adalah : jika pertumbuhan menunjukkan peningkatan output dalam pembangunan mencakup peningkatan output yang terkait dengan perubahan tatanan teknis dan institusional.

Perbedaan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi
1.      Lebih bersifat kuantitas yaitu meningkatnya output secara efisien.
2.      Tidak mempersoalkan bertambahnya jumlah penduduk (Populasi) apakah lebih besar ataukah lebih kecil dibandingkan dengan bertambahnya output (GNP)
3.      Penekananya dari aspek produksi/pendapatan nasional dalam jangka panjang.
4.      proses naiknya output per kapita dalam jangka panjang
5.      Pertumbuhan merupakan salah satu kondisi yang menjadi sasaran pembangunan
6.      Pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh pendapatan nasional.
7.      Terjadinya pertumbuhan ekonomi belum tentu terjadi proses pembangunan

Pembangunan ekonomi
1.      Tidak hanya bersifat kuantitatif tapi juga memperhatikan perubahan structural dan lebih bersifat kualitatif (perubahan cara-cara produksi, mutu alat yang digunakan, sikap mental, kelembagaan menuju kesejahteraan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat).
2.      Menunjukkan kenaikan output yang lebih besar dari pada pertambahan penduduk (Populasi)
3.      Tidak hanya pada aspek produksi tapi juga pada aspek pemerataan ekonomi, pemberantasan kemiskinan, keterbelakangan dan kebodohan.
4.      Proses perubahan secara terus menerus dalam upaya menciptakan struktur sosial ekonomi yang lebih baik.
5.      Pembangunan ekonomi merupakan suatu alat / sarana untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi
6.      Pembangunan ekonomi ditentukan oleh banyak factor-faktor lainnya termasuk pertumbuhan
7.      Pembangunan selalu dibarengi dengan proses pertumbuhan

Kriteria / Indikator Keberhasilan Pembangunan
Pembangunan ekonomi suatu Negara banyak ragamnya dan tidak hanya dapat dilihat dari satu aspek ekonomi saja misalnya : Pendapatan nasional, kesempatan kerja, distribusi pendapatan nasional, pembayaran internasional, tingkat harga, perekonomian yang stabil tetapi juga berhubungan dengan aspek sosial misalnya lingkungan hidup, pendidikan, kesehatan, transportasi, prestasi olah raga dan sebagainya.

Faktor-Faktor yang menjadi hambatan pembangunan ekonomi
1.      bertambahnya jumlah penduduk yang besar
2.      kurangnya modal dan tenaga ahli. Hal ini menyebabkan sumber daya alam belum diolah, produktifitas rendah Ã  pendapatan riil masyarakat rendah Ã  tingkat pengeluaran konsumsi rendah Ã investasi rendah Ã  pendidikan juga rendah sehingga terjadi istilah lingkaran setan yang tak berujung pangkal.
3.      kurang kesempatan kerja yang ditandai dengan banyaknya tingkat pengangguran
4.      sebagian penduduk bekerja disektor pertanian dengan tehnologi yang tradisional

Dampak positif pembangunan ekonomi
1.      Menambah sarana bagi penyediaan kebutuhan masyarakat
2.      Mengurangi gep perbedaan antara Negara-negara maju dengan Negara-negara berkembang
3.      Mengurangi kemiskinan, kebodohan yang menghambat kesejahteraan masyarakat
4.      Dapat mengatasi laju perkembangan penduduk melalui keluarga berencana (KB) yang akhirnya dapat mengatasi sedikit masalah kesempatan kerja
5.      Meningkatkan kemakmuran dalam arti kekayaan yang dimiliki
6.      Memberikan kesempatan berpolitik dan berbudaya dan berkreasi sehingga dapat memberikan rasa senang pada masyarakat.
7.      Memungkinkan terjadi perubahan-perubahan menuju kearah yang lebih baik

Dampak Negatif Pembangunan ekonomi
1.      Mendorong orang bersifat konsumtif / individualistis.
2.      Berkurangnya sifat gotong royong dalam masyarakat
3.      Dapat merenggangkan hubungan kekeluargaan yang merupakan akar budaya
4.      Adanya pencemaran lingkungan hidup

Minggu, 07 Oktober 2012

Teori tingkah laku konsumen: Pilihan konsumen



Teori tingkah laku konsumen dapat dibedakan menjadi dua macam pendekatan: Pendekatan nilai guna Utility kardinal dan pendekatan nilai guna ordinal. Dalam pendekatan utility cardinal dianggap manfaat atas kenikmatan dirasakan secara kuantitatif. Sedangkan dalam nilai guna ordinal kenikmatan tidak dikuantifikasi, tingkah laku konsumen untuk memilih barang-barang yang akan memaksimumkan kepuasannya ditunjukkan dengan bantuan Kurva Kepuasan Sama, yaitu kurva yang menggambarkan gabungan barang yang akan memberikan nilai guna(kepuasan) yang sama.
Analisis Utilitas
Didalam teori ekonomi kepuasan atau kenikmatan yang diperoleh seseorang dari mengkonsumsikan barang-barang dinamakan nilai guna ( utilitas ). Kalau kepuasan itu semakin tinggi maka makin tinggilah nilai gunanya.
Hipotesa utama dalam teori niali guna dikenal sebagai hukum nilai marginal yang semakin menurun, yang berbunyi :
Tambahan nilai guna yang diperoleh seseorang dari mengkonsumsi suatu barang akan menjadi semakin sedikit apabila orang tersebutterus menerus menambah konsumsi atas barang tersebut. Pada akhirnya tambahan niali guna akan menjadi negatif, yaitu apabila konsumsi atas barang tersebut ditambah satu unit lagi, maka nilai guna total akan menjadi semakin sedikit.
Makna dari hipotesa tersebut :
Pertambahan yang terus menerus dalam mengkonsumsi suatu barang tak secara terus menerus menambah kepuasan dari orang yang mengkonsumsinya. Pada permulaannya setiap tambahan konsumsi akan mempertinggi tingkat kepuasan orang tersebut.


Nilai guna dibedakan menjadi:
1. Nilai guna total
Yaitu: jumlah seluruh kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi sejumlah barang tertentu.
2. Nilai guna marginal
Yaitu: pertambahan atau pengurangan kepuasan sebagai akibat dari penggunaan satu unit barang tertentu.
 

Kamis, 04 Oktober 2012

PENGARUH INSENTIF TERHADAP KINERJA KARYAWAN”


MAKALAH

EKONOMI SUMBERDAYA MANUSIA


“ PENGARUH INSENTIF TERHADAP KINERJA KARYAWAN”






















Oleh :


Romadani rajab

2008/02609





JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2011
KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karuniaNya penulis telah dapat  menyelesaikan makalah ini yang berjudul “pengaruh insentif terhadap kinerja karyawan”.
            Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk melengkapi dan memenuhi salah satu tugas dalam mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Manusia pada Universitas Negeri Padang.
            Dengan melalui rintangan baik yang berasal dari luar maupun yang datang dari penulis sendiri, akhirnya berkat bimbingan dan dorongan berbagai pihak penulis dapat  menyelesaikan makalah ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Penulis menyadari bahwa penulisan ini jauh dari kesempurnaan, tetapi sebagai gambaran umum penulisan ini dapat  diterima sebagai pegangan sementara dan dengan hati yang terbuka penulis menerima segala saran dan kritikan yang sifatnya menyempurnakan paper ini.
            Penulis pada kesempatan ini mengucapkan terimakasih banyak kepada dosen ekonomi sumber daya manusia yang telah membimbing penulis hingga dapat  menyelesaikan makalah ini. Akhir kata, dengan harapan semoga penulisan ini dapat  menjadi sumbangan dan penambahan wawasan pada pihak yang membutuhkan. Semoga hasil usaha ini mendapat ridho dari Allah SWT. Amin…..

Padang,   Desember 2011
 Penulis


 
Romadani Rajab
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
BAB I.PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang............................................................................................1
  2. Batasan Masalah..........................................................................................2
  3. Tujuan..........................................................................................................2
BAB II.KAJIAN TEORI
1.Insentif……………………………………………………………………...3
2.Kinerja Karyawan…………………………………………………………..7
BAB III.PEMBAHASAN
Pengaruh Insentif Terhadap Kinerja Karyawan…………………………….10
BAB III.PENUTUP
  1. Kesimpulan..............................................................................................13
  2. Saran   .....................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA











BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Di era globalisasi saat ini dan dalam kondisi masyarakat sekarang, seringkali ditemukan beberapa masalah yang menyebabkan banyak perusahaan mengalami kegagalan, baik yang disebabkan oleh ketidakmampuan beradaptasi dengan kemajuan teknologi maupun yang disebabkan oleh kurang baiknya hasil kerja dari sumber daya manusia yang ada pada perusahaan tersebut, padahal harus diakui manusia adalah faktor penting yang turut menentukan keberhasilan suatu perusahaan. Oleh karena itu, keberhasilan suatu perusahaan atau organisasi sangat ditentukan oleh kegiatan pendayagunaan sumber daya manusia yaitu orang-orang yang menyediakan tenaga, bakat kreativitas dan semangat bagi perusahaan serta memegang peranan penting dalam fungsi operasional perusahaan.
Perusahaan tidak mungkin terlepas dari tenaga kerja manusia, walaupun aktivitas perusahaan itu telah mempunyai modal yang cukup besar dan teknologi modern, sebab bagaimanapun majunya teknologi tanpa ditunjang oleh manusia sebagai sumber dayanya maka tujuan perusahaan tidak akan tercapai, dengan demikian maka sumber daya manusia sangat penting untuk diberikan arahan dan bimbingan dari manajemen perusahaan pada umumnya dan manajemen sumber daya manusia pada khususnya.
Untuk dapat mengikuti segala perkembangan yang ada dan tercapainya tujuan suatu perusahaan maka perlu adanya suatu motivasi agar pegawai mampu bekerja dengan baik, dan salah satu motivasi itu adalah dengan memenuhi keinginan-keinginan pegawai antara lain: gaji atau upah yang baik, pekerjaan yang aman, suasana kerja yang kondusif, penghargaan terhadap pekerjaan yang dilakukan, pimpinan yang adil dan bijaksana, pengarahan dan perintah yang wajar, organisasi atau tempat kerja yang dihargai masyarakat atau dengan mengupayakan insentif yang besarannya proporsional dan juga bersifat progresif yang artinya sesuai dengan jenjang karir, karena insentif sangat diperlukan untuk memacu kinerja para karyawan agar selalu berada pada tingkat tertinggi (optimal) sesuai kemampuan masing-masing.
Dengan menurunnya produktivitas dan semangat kerja karyawan maka insentif perlu ditingkatkan untuk menunjang kinerja karyawan dalam meningkatkan hasil produksi.
2.      Perumusan masalah.
Berdassarkan latar belakang masalah di atas dapat di rumuskan masalah yaitu bagaimana pengaruh intensif terhadap kinerja karyawan.
3.      Batasan Masalah
Penulis memberi  batasan makalah ini diantaranya tentang pengertian insentif, pengertian kinerja, hubungan insentfif dengan kinerja karyawan dan  pengaruh isentif terhadap kinerja karyawan.
4.      Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan dari makalah ini penulis buat yaitu mengetahui sejauh mana hubungan insentif dengan kinerja karyawan dan pengaruh isentif terhadap kinerja karyawan.





BAB II
KAJIAN TEORI
1.      Insentif
            Menurut Malayu S.P Hasibuan (2001: 117), mengemukakan bahwa: “Insentif adalah tambahan balas jasa yang diberikan kepada karyawan tertentu yang prestasinya di atas prestasi standar. Insentif ini merupakan alat yang dipergunakan pendukung prinsip adil dalam pemberian kompensasi”.
Insentif sebagai sarana motivasi yang mendorong para pegawai untuk bekerja dengan kemampuan yang optimal, yang dimaksudkan sebagai pendapatan ekstra di luar gaji atau upah yang telah ditentukan. Pemberian insentif dimaksudkan agar dapat memenuhi kebutuhan para pegawai dan keluarga mereka. Istilah sistem insentif pada umumnya digunakan untuk menggambarkan rencana-rencana pembayaran upah yang dikaitkan secara langsung atau tidak langsung dengan berbagai standar kinerja pegawai atau profitabilitas organisasi.
Menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2002: 89), mengemukakan bahwa:  “Insentif adalah suatu bentuk motivasi yang dinyatakan dalam bentuk uang atas dasar kinerja yang tinggi dan juga merupakan rasa pengakuan dari pihak organisasi terhadap kinerja karyawan dan kontribusi terhadap organisasi (perusahaan).”
2.      Kinerja Karyawan
Kata “kinerja” belakangan ini menjadi topik yang hangat di kalangan pengusaha dan kalangan administrator. Kinerja seakan menjadi sosok yang bernilai dan telah dijadikan tujuan pokok pada organisasi/badan usaha, selain profit. Karena dengan laba saja tidak cukup apabila tidak dibarengi dengan efektivitas dan efisiensi.
Menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2001: 67) kinerja itu dapat didefinisikan sebagai: “Hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.”
Sedangkan menurut August W. Smith yang dikutip dalam buku Sedarmayanti (2001: 50) mengemukakan: Performance atau kinerja adalah output drive from processes, human or otherwise, jadi dikatakannya bahwa kinerja merupakan hasil atau keluaran dari suatu proses.













BAB III
PEMBAHASAN
Pengaruh Insentif Terhadap Kinerja Karyawan
Insentif dengan kinerja  karyawan saling berhubungan. Insentif merupakan suatu dorongan pada seseorang agar mau bekerja dengan baik dan agar lebih cepat mencapai tingkat kinerja yang lebih tinggi sehingga dapat membangkitkan gairah kerja dan motivasi seorang karyawan. jadi seseorang mau bekerja dengan baik apabila dalam dirinya terdapat motivasi, yang menjadi masalah adalah bagaimana pula menciptakan gairah kerja dan motivasinya, sebab walaupun motivasi sudah terbentuk apabila tidak disertai dengan gairah kerjanya maka tetap saja pegawai tersebut tidak akan bisa bekerja sesuai yang diharapkan.
Sedangkan kinerja karyawan mempunyai hubungan erat dengan masalah produktivitas karena merupakan indikator dalam menentukan bagaimana usaha untuk mencapai tingkat produktivitas yang tinggi dalam suatu perusahaan/instansi. Sehubungan dengan hal tersebut maka upaya untuk mengadakan penilaian terhadap kinerja di suatu organisasi merupakan hal yang sangat penting. Dalam memotivasi dan mendorong peningkatan kinerja karyawan maka suatu perusahaan memberlakukan sebuah sistem insentif individu untuk setiap pencapaian produksi. Meskipun bagian persentase insentif individu ini tetap, namun besarnya nilai nominal yang diterima karyawan bisa berbeda antar karyawan yang satu dengan karyawan yang lainnya, bergantung pada pencapaian jumlah produksi per bulannya. Oleh karena itu, perlu diketahui penilaian karyawan terhadap pemberian insentif individu yang diterapkan oleh perusahaan. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa insentif individu dipandang dari sisi karyawan adalah tinggi.
Dengan tingginya insentif individu ini, maka persepsi karyawan terhadap pemberian insentif individu dari perusahaan adalah cukup baik. Dan jika dilihat dari sudut pandang perusahaan, tingginya insentif individu ini akan mempengaruhi pemikiran perusahaan, bahwa penggunaan insentif individu berupa piece rate incentive pada divisi produksi adalah tepat untuk digunakan. Sedangkan penilaian kinerja jika dilihat dari sudut pandang perusahaan adalah tinggi, dan dengan tingginya kinerja karyawan, maka perusahaan akan mampu untuk meningkatkan outputnya. Berdasarkan pada penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa insentif individu mempengaruhi tingkat kinerja karyawan dalam perusahaan pada divisi produksi.
Sistem insentif dengan cara ini langsung mengkaitkan besarnya insentif dengan kinerja yang telah ditunjukkan oleh pegawai yang bersangkutan. Berarti besarnya insentif tergantung pada banyak sedikitnya hasil yang dicapai dalam waktu kerja pegawai. Cara ini dapat diterapkan apabila hasil kerja diukur secara kuantitatif, memang dapat dikatakan bahwa dengan cara ini dapat mendorong pegawai yang kurang produktif menjadi lebih produktif dalam bekerjanya. Di samping itu juga sangat menguntungkan bagi pegawai yang dapat bekerja cepat dan berkemampuan tinggi. Sebaliknya sangat tidak favourable bagi pegawai yang bekerja lamban atau pegawai yang sudah berusia agak lanjut.
 Besarnya insentif ditentukan atas dasar lamanya pegawai melaksanakan atau menyelesaikan suatu pekerjaan. Cara perhitungannya dapat menggunakan per jam, per hari, per minggu ataupun per bulan. Umumnya cara yang diterapkan apabila ada kesulitan dalam menerapkan cara pemberian insentif berdasarkan kinerja. Memang ada kelemahan dan kelebihan dengan cara ini, antara lain sebagai berikut:
a).  Kelemahan
Terlihatnya adanya kelemahan cara ini sebagai berikut:
1.       Mengakibatkan mengendornya semangat kerja pegawai yang sesungguhnya mampu berproduksi lebih dari rata-rata.
2.       Tidak membedakan usia, pengalaman dan kemampuan pegawai.
3.       Membutuhkan pengawasan yang ketat agar pegawai sungguh-sungguh bekerja.
4.       Kurang mengakui adanya kinerja pegawai.
b). Kelebihan
Di samping kelemahan tersebut di atas, dapat dikemukakan kelebihan-kelebihan cara ini sebagai berikut:
1.       Dapat mencegah hal-hal yang tidak atau kurang diinginkan seperti: pilih kasih, diskriminasi maupun kompetisi yang kurang sehat.
2.       Menjamin kepastian penerimaan insentif secara periodic
3.      Tidak memandang rendah pegawai yang cukup lanjut usia.
Insentif pada pegawai didasarkan pada tingkat urgensi kebutuhan hidup yang layak dari pegawai. Ini berarti insentif yang diberikan adalah wajar apabila dapat dipergunakan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pokok, tidak berlebihan namun tidak berkekurangan. Hal seperti ini memungkinkan pegawai untuk dapat bertahan dalam perusahaan/instansi.
BAB IV
PENUTUP

1.      Keimpulan
            Adapun pengaruh insentif terhadap kineja karyawan antaa lain, Insentif dengan kinerja  karyawan saling berhubungan.Insentif merupakan suatu dorongan pada seseorang agar mau bekerja dengan baik dan agar lebih cepat mencapai tingkat kinerja yang lebih tinggi sehingga dapat membangkitkan gairah kerja dan motivasi seorang karyawan.
            Kinerja karyawan mempunyai hubungan erat dengan masalah produktivitas karena merupakan indikator dalam menentukan bagaimana usaha untuk mencapai tingkat produktivitas yang tinggi dalam suatu perusahaan/instansi.
2. Saran
            Mengingat insentif  sebagai sarana motivasi yang mendorong para pegawai untuk bekerja dengan kemampuan yang optimal. Maka para karyawan harus memiliki kinerja yang baik bagi perusahaannya.  






DAFTAR PUSTAKA
Ballante,Don and Mark Jackson.1990.Ekonomi Ketenaga Kerjaan,Terjemahan.Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI,Jakarta.
http:// wwww.google.com/pengaruh insentif pada kinerja karyawan.Diambil pada tanggal 2 Desember 2011
http:/www.kinerja.com.Diambil pada 3 Desember 2011